Auskultasi Psikologis..

Entah ini pernah saya tulis atau belum,tapi sepertinya menarik juga untuk dibahas.

Aktifitas pemeriksaan fisik yang paling khas dan tentunya jadi trademark-nya dokter adalah yang pake stetoskop a.k.a auskultasi. Pokoknya ini khas banget. Gak ada duanya.Stetoskop-nya itu yang menjadi pembeda.Memang sih tidak semua tindakan medis butuh auskultasi,dan tanpa stetoskop punaktifitas penegakan status dan diagnose bisa berjalan.Tapi tetap saja auskultasi itu beda.

Seorang Rene’ Laennec pun pasti tidak menduga kalau alat kreasinya ini jadi bagian teramat mendasar dari dunia kedokteran.Begitu pun Prof Litmann yang membuat alat ini jadi lebih simpel.

Namun ada sebuah hal yang cukup menggelitik.Ini berdasarkan pengalaman dan mungkin saja kawan-kawan punya pengalaman yang sama.Saya yakin 100 % semuanya pernah melakukannya.Saya beri nama Auskultasi Psikologis.

Bisa jadi ini istilah orisinil.Soalnya coba tanya ke Mbah Google,gak ada frase ini.Nyari di Mpu Kaskus juga gak ada.Yaa,sementara kita pake aja dulu.Rasanya gak ada yang bakal nuntut royaltinya..(*siapaa juga yang mau patenkan ini…^^v)

Kita coba definisikan auskultasi psikologis itu begini:Auskultasi yang ditujukan untuk formalitas dokter da nyenangin hati pasien…(*Nah lho…!!).Aduuh maaf,saya gak bisa bikin definisi yang lebih baik dari ini. Terus terang saja,apalagi dalam pelayanan poliklinik umum yang katanya sebagian besarnya kasus nya seputar ISPA-GE-Dispepsia,yang katanya kita sudah tau mau meresepkan obat apa,bahkan sebelum anamnesa selesai,auskultasi tak lagi sesuai dengan fungsi aslinya. Melakukan auskultasi menjadi sekedar formalitas.Menenangkan secara psikis.Bahkan mungkin tak sempat untuk mendengar satu siklus inhalasi-ekshalasi pun! karena ngausultasinya buru-buru pindah dari satu titik ke titik lain. Jadi apa yang mau disimpulkan?!.Bagi yang punya pasien banyak,apalagi yang numpuk,ngaku deh,sering begini.(*hehe…^^v).

Kalau kita lihat dari sudut pandang pasien,tindakan auskultasi itu mungkin adalah ‘segalanya’ buat mereka,saat mereka memeriksakan dirinya ke dokter.Coba saja dengar cerita mereka diluar ruang praktek,mana dokter yang –menurut mereka- memeriksa pasien dan mana yang tidak.Pembedanya hanya auskultasi!!

Jadi,apa yang dilakukan itu salah.Hmmm..sulit juga menjawabnya.Relatif sekali.Tak bisa juga disalahkan sepenuhnya.Bahkan dari sudut pandang lain mungkin saja betul tindakan itu.Secara psikologis pasien puas karena betul-betul sudah ‘diperiksa’ oleh dokternya.

Ini hanya sebuah cetusan ide.Mungkin saja rekan-rekan punya pandangan berbeda.Bagaimana?

Duri,22.32 Waktu My HP Mini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s