DEMAM…

MasbroSis..sori nih,ngeposting tulisan agak formil dan ngilmu dikit..kebetulan ada artikel yang baru dibikin buat koran..(apa tabloid yak?)…:)))

 

DEMAM

Oleh dr.Aulia Rahman

 

Demam. Kata yang sangat akrab di telinga. Hampir setiap orang tahu dan pernah mengalaminya, meskipun dengan pengertian masing-masing yang terkadang kurang valid. Apalagi jika dipasangkan dengan pasangan kata seperti demam malaria, demam berdarah atau demam chikunguya, demam terasa sangat familiar sekaligus  cenderung terkesan mengerikan.

Lalu apa sebenarnya demam tersebut?

Demam disebut juga Pirexia dalam bahasa latin atau Fever dalam bahasa Inggris. Secara umum,definisi demam adalah kenaikan suhu tubuh melebihi 37,20 C. Sedangkan rentang suhu tubuh normal adalah 36,50– 37,20 C. Nah, karena itu suhu tubuh diatas 37,2o C telah dapat dikatakan sebagai keadaaan demam.  Suhu ini harus diukur dengan menggunakan alat bernama termometer pada ketiak, mulut atau (maaf) lubang anus pasien. Lokasi  pemeriksaan yang disebutkan terakhirlah yang sebenarnya lebih akurat dibandingkan lokasi lainnya. Jadi, demam tak dapat diukur berdasarkan perasaan  atau menggunakana ilmu kiralogi alias kira-kira saja.

Jika suhu tubuh mencapai 41,2o C, maka keadaan itu disebut hiperpireksia (demam yang sangat tinggi) dan biasanya keadaan ini cukup berbahaya, terutama pada bayi dan anak-anak, sehingga harus mendapat perhatian khusus dan penanganan segera.

Proses terjadinya demam diatur oleh bagian otak yang dinamakan hipotalamus akibat ransangan dari zat pencetus demam yang disebut pirogen. Panas yang terbentuk dalam tubuh ‘tertahan’ ditambah pula produksi panas tubuh dari metabolism yang semakin meningkat, sehingga tubuh akan  semakin merasa panas atau dan itulah yang dirasakan sebagai demam tadi. Demam juga merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh.

Demam dapat terdiri dari beberapa pola, diantaranya :

  • Demam septic ,yaitu demam yang suhunya tinggi sekali dimalam hari,dan berangsur turun di pagi hari hingga diatas batas suhu normal tubuh.
  • Demam remiten, yaitu demam turun naik setiap hari,meskipun juga belum mencapai batas normal suhu tubuh.
  • Demam intermiten, yaitu demam yang bisa turun sampai ke suhu tubuh normal selama beberapa jam atau satu hari,lalu kembali naik.
  • Demam siklik, yaitu demam yang tinggi selama beberapa hari lalu turun selama beberapa hari,lalu naik lagi.
  • Demam kontinu, yaitu demam yang terus menerus tinggi. Andaipun turun,tidak lebih dari satu derajat Celsius.

Nah, demam-demam ini terkadang dapat menjadi ciri khas dari sebuah penyakit. Misalnya demam intermiten yang khas pada penyakit malaria.Selain itu,demam yang tiba-tiba tinggi dapat dikaitkan dengan infeksi virus.

Demam bukan penyakit

Demam harus dipahami sebagai sebuah gejala penyakit, bukan sebagai sebuah penyakit tertentu yang berdiri sendiri. Memang ada penyakit yang dinamakan Demam Berdarah atau Demam Malaria seperti disebutkan diatas, namun gejala penyakit ini bukan hanya demam saja. Demam berdarah misalnya,selain ada demam mendadak selama 2 sampai 7 hari, harus ada gejala seperti nyeri otot dan sendi, nyeri belakang mata, sakit kepala atau perdarahan spontan . Jadi,demam disini hanya sebagai gejala utama,bukan  penyakit itu sendiri. Saat kita  memahami demam adalah sebuah gejala, maka kita akan cenderung lebih awas terhadap kemungkinan adanya gejala-gejala penyerta lain.

Saat mengalami demam, kita mesti mulai untuk mencoba mengingat kapan mulai muncul demam tersebut, lama demam, polanya, tinggi suhunya dan tentu saja  gejala-gejala lain.  Ini penting terutama apabila kita harus berobat ke fasilitas kesehatan seperti Rumah Sakit atau Puskesmas agar dokter dapat terbantu dan  lebih tepat dalam menentukan diagnosis penyakit serta penatalaksanaannya.

Namun dalam dunia medis, terdapat keadaan yang disebut Fever of Undiagnosed Origin (FUO) atau “demam yang belum terdiagnosis”. Keadaan ini berupa demam yang selama 3 minggu terus menerus tidak diketahui penyebabnya walapun telah dilakukan berbagai macam pemeriksaan medis. Jadi,tidak selalu keadaan demam itu akan segera diketahui penyebabnya,ilmu kedokteran juga mempunyai keterbatasan.

Apakah demam harus selalu minum obat?

Pada dasarnya keadaan demam adalah keadaan tidak normal bagi tubuh dan tentu harus dikembalikan kedalam keadaan normalnya. Proses ini bisa saja memerlukan bantuan obat,namun lebih sering tidak.

Keluhan demam yang tidak terlalu tinggi atau muncul baru beberapa saat saja, cukup berlebihan apabila kita lansung menggunakan obat demam semisal paracetamol. Kebanyakan demam yang datang ke poliklinik atau praktek dokter swasta,adalah keluhan demam yang akan reda dengan sendirinya saat pertahanan tubuh kita telah bekerja optimal. Sehingga saran-saran dokter seperti istirahat yang cukup, minum air putih yang banyak, menjaga asupan makanan bergizi ,kompres hangat secara berkala dan menambah konsumsi vitamin sudah cukup untuk meredakan demam tersebut.

Namun pada kasus demam-demam tertentu , mengkonsumsi obat penurun demam adalah pilihan yang mesti diambil. Seiring dengan upaya mencari penyebab utama dari demam tersebut. Sering pada bayi,anak-anak atau usia tua yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. Sebaiknya tindakan pemberian obat pada golongan pasien seperti ini berkonsultasi dulu dengan dokternya.

Nah, sedikit informasi ini semoga dapat menambah atau memperdalam pengetahuan kita tentang demam.Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s